Senin, 13 Juli 2015

Hantu Mira yang misterius

Namaku Selly dan aku duduk di bangku kelas satu. Ini adalah hari pertama ku masuk kembali, karena kemarin aku ada izin mendadak dan tak masuk sekolah. Tak biasanya dingin udaranya seperti ini, bahkan terasa menusuk hingga kedalam tulangku. Namun ku tetap semangat mengayuh sepeda dengan mengenakan jaket hangatku.

Waktu menunjukan pukul 06.30 dan aku sudah sampai di depan gerbang sekolah. Seperti biasanya, akulah yang selalu datang pertama di sekolah. Hal yang ku suka datang pagi-pagi sekali adalah karena sepi sekali dan aku bisa melihat ke setiap kelas, bahkan aku sering menemukan buku anak-anak yang tertinggal.

Setelah itu aku memutuskan untuk menyimpan tas di kelasku ,namun saat aku hendak memasuki kelas, aku terkejut melihat Mira yang sudah ada di bangku depan yang biasa ia duduki setiap hari. Dalam hatiku bertanya "Hah? Ko si Mira udah datang sih? Biasanya kan gue yang paling duluan di kelas". Karena penasaran langsung ku hampiri dia. "Mir, tumben pagi banget udah datang? Nunggu di luar yuk!". Namun Mira hanya diam dengan tatapan kosong yang melihat ke arah papan tulis yang ada di depannya. Karena dia tak menjawab, maka ku putuskan tuk meninggalkannya sendiri, lagipula aku kurang akrab dengan dia. Memang pada saat itu perasaanku sedikit merinding, tapi ku tetap berfikir positif, mungkin karena udaranya yang dingin kali.

Suasana mulai ramai, bahkan bangku di kelasku hampir terisi semua. Lalu tak lama bel tanda masuk pun terdengar, semua gerbang sekolah di tutup.

Pelajaran pertama pun di mulai hingga selesai dan ku tak merasa ada yang janggal, kemudian pelajaran kimia di mulai. Namun saat pelajaran kimia yang menjadi favoritnya Mira akan di mulai, ku tak melihat keberadaan dia di bangkunya. "Han, dimana Mira?" tanya ku kepada Hani teman sebangku ku.
"Hah? Kamu belum tahu yah? Mira baru saja meninggal dunia kemarin sore sepulang sekolah".
"APA...??? Ga mungkin, tadi pagi itu aku melihatnya di bangku depan biasa ia duduk, malah sempat ku ajak dia bicara".
"Hahaha...lucu sekali" Hani tertawa mendengar kataku. Karena ku tak percaya, lalu ku tanya Rodi teman sekelas yang berada di belakangku. "Heh Rod, emang bener yah Mira meninggal dunia?".
"Iyah Sel, setauku dia meninggal karena tertabrak motor saat pulang sekolah".
"Han?".
"Iyah Sel?".
"Lalu orang yang ku temui dan ku ajak ngobrol tadi pagi itu siapa?". Seketika ku langsung berteriak dan pingsan saat itu.

Saatku tersadar, ku sudah berada di UKS, bahkan guru kimia pun tengah menungguku tersadar. "Selly? Kenapa kamu teriak tadi?".
"Aku takut Bu!" sambil menangis.
"Kenapa?".
"Ini Bu, aku melihat Mira di kelas tadi pagi sekali dan saat ku tanya anak-anak, mereka bilang Mira udah ga ada".
"Oh begitu, memang benar apa kata anak-anak. Mungkin saat pagi tadi kamu ngelamu yah? Ya udah lain kali kalau sendirian itu jangan ngelamun dan selalu ingat untuk berdoa".
"Iya Bu!" jawabku dengan gemetar.

Ku masih tidak mengerti, mengapa siang aku tidak melihatnya. Padahal pagi tadi ia begitu jelas dan dekat denganku. Ku tetap berfikir positif agar fikiranku jernih dan mungkin itu arwah dia yang ingin melihatku terakhir kali dan memintaku agar mendoakannya.

Semenjak itu ku tak melihat sosok itu lagi di bangku yang sama.
Tamat...

Minggu, 12 Juli 2015

Perjalanan ku

Umur semakin tua dan dunia akan terus maju. Perkembangan yang begitu kejam telah melahap orang, hingga belas kasih pun terlupakan. Lahan kau renggut hanya dengan membawa hukum. Bukankah kalian telah bersumpah di bawah janji yang begitu berat, namun kau ingkari dengan banyaknya keserakahan. Begitu tragis orang-orang ini.

Suatu  malam ku tengah berjalan berkeliling di satu kota. Ku berjalan sambil membawa kamera yang senantiasa menemaniku. Nampak indah setiap sudut yang ku lewati dan segera ku abadikan di kameraku. Namun ketika ku lihat keindahan di atas, ku tersentuh pada kehidupan bawah yang tersisihkan ini. Begitu pilu yang ku dengar dari seorang pedagang kaki lima yang telah berusia ini. "Kek, boleh saya pesan satu?".
"Oh baik, tunggu sebentar".

Saat beliau sedang meracik pesanannya, ku lihat lagi pemandangan yang sangat mengiris hati. Tangan-tangan yang begitu renta terlihat gemetar saat meracik bumbu. "Kek, Kakek tinggal dimana?".
"Itu Dek, di bawah jembatan itu".
"Kakek punya anak?".
"Punya".
"Mengapa bukan anak kakek saja yang meneruskan dagangan ini?".
"Mereka sibuk bekerja".
"Kalau begitu seharusnya kakek tak perlu berjualan, kan sudah ada anak kakek yang bisa membiayai hidup kakek, dari pada kakek lelah terus berkeliling di jalan seperti ini". Kakek pun hanya tersenyum.
"Sudah berapa lama jualannya?".
"Waduhh Dek, udah ga keitung" jawabnya dengan tertawa. Ku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku berbicara. "Inikah dunia yang terlihat gemerlap indah dari luar? Namun dari dalam, kehidupan suram masih terpelihara baik. Wajah-wajah susah masih ku temui dan jeritan-jeritan hati pun masih mewarnai".

Suatu hari saat ku berkeliling menggunakan motorku, kulihat pemandangan lain yang begitu bergejolak. Ku hentikan lajuku. Terlihat sebuah rumah yang di hancurkan aparat meggunakan mesin berat, hingga kebisingan pun menelan suara-suara. Namun dari sisi lain ku lihat wajah tangis, amarah, ketakutan, begitu penuh emosi. Hingga ku tanya salah satu aparat. "Permisi Pak, ada apa ini?".
"Ini, kami sedang melakukan penggusuran bangunan yang mengganggu ketertiban dan kenyaman tempat". Dalam hati ku berbicara "Bagaimana mungkin tempat mereka berlindung dan tinggal bisa mengganggu ketertiban".
"Mengapa begitu Pak? Itukan rumah mereka?".
"Begini, mereka membangun rumah dengan tanpa surat izin dan kepemilikan tanah, maka kami proses sesuai hukum yang berlaku".

Dan lagi, ku tak bisa berbuat apa-apa, ku hanya bisa melihat wajah-wajah penuh kesusahan ini. Ku hanya bisa mendoakan mereka agar di berikan tempat yang layak bagi kehidupan anak cucu mereka.

Memang, dari luar semua begitu berkilau, dari luar begitu mahsyur, namun dari dalam kehidupan kelam masih ada yang menelannya. Tak henti negeri ini di warnai tangis dan ratapa-ratapan dari mereka yang hidup penuh susah. Inikah negeri yang kau sebut makmur? Inikah negeri yang kau sebut mahsyur? Inikah negeri yang kau sebut berjaya dan merdeka? Tidak. Negeri ini sedang di jajah, negeri ini sedang di timpa dengan kebodohan-kebodohan yang membutakan mereka. Adil? Mereka bilang adil? Yang ku lihat hanyalah penindasan kalangan bawah yang seolah hanyalah sampah masyarakat. Begitu tragis negeri ini.

Kita ini orang bawah, yang begitu merindukan keadilan dan belas kasih dari atas, namun semua hanyalah bayangan semu. Kita hanya bisa berharap. Kepercayaan kami mulai hilang dengan janji-janji yang terdengar makmur dan semua hanyalah tipu daya. Kembalikanlah kepercayaan kami wahai orang-orang negeri.