Minggu, 12 Juli 2015

Perjalanan ku

Umur semakin tua dan dunia akan terus maju. Perkembangan yang begitu kejam telah melahap orang, hingga belas kasih pun terlupakan. Lahan kau renggut hanya dengan membawa hukum. Bukankah kalian telah bersumpah di bawah janji yang begitu berat, namun kau ingkari dengan banyaknya keserakahan. Begitu tragis orang-orang ini.

Suatu  malam ku tengah berjalan berkeliling di satu kota. Ku berjalan sambil membawa kamera yang senantiasa menemaniku. Nampak indah setiap sudut yang ku lewati dan segera ku abadikan di kameraku. Namun ketika ku lihat keindahan di atas, ku tersentuh pada kehidupan bawah yang tersisihkan ini. Begitu pilu yang ku dengar dari seorang pedagang kaki lima yang telah berusia ini. "Kek, boleh saya pesan satu?".
"Oh baik, tunggu sebentar".

Saat beliau sedang meracik pesanannya, ku lihat lagi pemandangan yang sangat mengiris hati. Tangan-tangan yang begitu renta terlihat gemetar saat meracik bumbu. "Kek, Kakek tinggal dimana?".
"Itu Dek, di bawah jembatan itu".
"Kakek punya anak?".
"Punya".
"Mengapa bukan anak kakek saja yang meneruskan dagangan ini?".
"Mereka sibuk bekerja".
"Kalau begitu seharusnya kakek tak perlu berjualan, kan sudah ada anak kakek yang bisa membiayai hidup kakek, dari pada kakek lelah terus berkeliling di jalan seperti ini". Kakek pun hanya tersenyum.
"Sudah berapa lama jualannya?".
"Waduhh Dek, udah ga keitung" jawabnya dengan tertawa. Ku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku berbicara. "Inikah dunia yang terlihat gemerlap indah dari luar? Namun dari dalam, kehidupan suram masih terpelihara baik. Wajah-wajah susah masih ku temui dan jeritan-jeritan hati pun masih mewarnai".

Suatu hari saat ku berkeliling menggunakan motorku, kulihat pemandangan lain yang begitu bergejolak. Ku hentikan lajuku. Terlihat sebuah rumah yang di hancurkan aparat meggunakan mesin berat, hingga kebisingan pun menelan suara-suara. Namun dari sisi lain ku lihat wajah tangis, amarah, ketakutan, begitu penuh emosi. Hingga ku tanya salah satu aparat. "Permisi Pak, ada apa ini?".
"Ini, kami sedang melakukan penggusuran bangunan yang mengganggu ketertiban dan kenyaman tempat". Dalam hati ku berbicara "Bagaimana mungkin tempat mereka berlindung dan tinggal bisa mengganggu ketertiban".
"Mengapa begitu Pak? Itukan rumah mereka?".
"Begini, mereka membangun rumah dengan tanpa surat izin dan kepemilikan tanah, maka kami proses sesuai hukum yang berlaku".

Dan lagi, ku tak bisa berbuat apa-apa, ku hanya bisa melihat wajah-wajah penuh kesusahan ini. Ku hanya bisa mendoakan mereka agar di berikan tempat yang layak bagi kehidupan anak cucu mereka.

Memang, dari luar semua begitu berkilau, dari luar begitu mahsyur, namun dari dalam kehidupan kelam masih ada yang menelannya. Tak henti negeri ini di warnai tangis dan ratapa-ratapan dari mereka yang hidup penuh susah. Inikah negeri yang kau sebut makmur? Inikah negeri yang kau sebut mahsyur? Inikah negeri yang kau sebut berjaya dan merdeka? Tidak. Negeri ini sedang di jajah, negeri ini sedang di timpa dengan kebodohan-kebodohan yang membutakan mereka. Adil? Mereka bilang adil? Yang ku lihat hanyalah penindasan kalangan bawah yang seolah hanyalah sampah masyarakat. Begitu tragis negeri ini.

Kita ini orang bawah, yang begitu merindukan keadilan dan belas kasih dari atas, namun semua hanyalah bayangan semu. Kita hanya bisa berharap. Kepercayaan kami mulai hilang dengan janji-janji yang terdengar makmur dan semua hanyalah tipu daya. Kembalikanlah kepercayaan kami wahai orang-orang negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar